Kamis, 10 Desember 2015

11 FAKTA TENTANG SANTRI

1. Para santri ngetel (masak) sendiri 
Masak sendiri merupakan salah satu hal yang mendewasakan dalam dunia pesantren. Tempo dulu, ketika belum ada kompor, santri masak memakai kayu bakar. Ketika musim hujan tiba, tak jarang banyak hanger atau sandal jepit yang hilang. Ke mana hilangnya, ya, jelas ke tungku untuk memasak. Namun, sekarang jarang santri yang masak sendiri, seiring dengan perkembangan jaman. Jika mencari santri memasak di dapur, silakan cari pondok yang masih salaf.

2. Makan se-lengser bersama
Inilah yang membuat apapun makanannya akan enak terasa. Santri yang memasak, ketika sudah siap saji, makanan ditiriskan di lengser atau daun pisang. Kemudian dimakan secara bersama-sama oleh 5 - 10 orang. Meski nasi dan sayur masih panas, para santri tak peduli untuk melahapnya. Soal tangan gosong atau lidah terbakar, itu soal nanti. Masalahnya, kalau tidak berani ambil resiko itu, dijamin tidak kenyang karena kalah dengan yang lain.

3. Antri mandi
Pesantren yang jumlah santrinya ribuan, ketika pagi dan sore hari akan ada pemandangan menarik di kamar mandi atau kali (sungai). Satu kamar mandi, bisa antre tiga orang. Jika tak sabar, yang ngantri akan menggedor-gedor pintu. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya buang hajat dengan pintu digedor-gedor. Berbeda dengan kamar mandi, kalau mandi di sungai antrinya petelesan celana untuk santri putra. Sungguh menggelikan.

4. Terserang penyakit kulit
Penyakit kulit atau kudis, akrab bagi santri baru. Hal ini seakan menjadi "ujian" pertama bagi santri; apakah nantinya ia akan betah tinggal di pesantren atau tidak. Saking parahnya, santri yang terkena penyakit ini kadang sampai tak bisa duduk atau sulit jalan. Mau dibawa ke rumah sakit, dokter, tak jua sembuh-sembuh. Hanya waktu yang bisa menyembuhkannya, hingga badan kebal dan penyakit merasa bosan sendiri.Namun, itu dulu. Pesantren sekarang sudah banyak memiliki air bersih dan sanitasi yang memadahi.

5. Tidur di lantai berbantal pakaian kotor
Dulu tak ada ceritanya santri tidur di kasur. Tidurnya cukup merebahkan badan di lantai kamar, depan kamar atau serambi masjid. Untuk bantal, pakaian kotor dikumpulkan lalu dibungkus dengan sarung. Hal itu sudah lebih dari cukup menghilangkan kantuk karena kesibukan ngaji pagi, siang sampai malam.

6. Berebut IN atau jajanan
Sudah menjadi tradisi, ketika ada santri baru atau menerima wesel atau sehabis pulang selalu membawa aneka jajanan. Ketika si santri datang diantar orang-tua, seluruh anggota kamar akan bersikap dewasa dan melayani tamu dengan penuh penghormatan, seperti anjuran baginda nabi.

Namun sejurus kemudian, ketika para tamu orang tua atau wali santri itu pulang, akan segera terjadi kegaduhan: berebut jajanan. Ini suatu tradisi yang lazim terjadi di pesantren-pesantren salaf, meski latar belakang santri adalah seorang yang mampu. Berebut I.N. atau jajanan ini menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan.

7. Dikejar setoran
Setoran disini bukanlah setoran yang lazim terjadi antara sopir angkot dengan juragannya, namun setoran hafalan nadzaman dan syair-syair kitab. Biasanya, seminggu sekali para santri setoran hafalan tersebut kepada sang ustadz. Jika tidak memenuhi target, si santri akan dita'zir dan lebih ekstrem lagi tak bisa naik kelas.

8. Mayoran
Istilah mayoran dewasa ini jarang terdengar. Ini adalah manifestasi kekompakan atau rasa syukur santri setelah mengkhatamkan kitab. Biasanya, ada pengurus kelas yang menariki iuran lalu dibelikan daging. Daging, merupakan barang mewah bagi santri yang dengan kultur pesantren salaf rata-rata menyuruh untuk hidup senderhana, riyadlah dan tirakat. Namun, sepertinya tradisi mayoran ini sekarang lekang oleh waktu karena makanan mewah sudah ada dimana-mana.

9. Ta'zir (hukuman)
Pesantren dimanapun memiliki peraturan. Jika ada santri yang melanggar, ia akan dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang diceburkan ke kolam atau sunga, dicukur gundul atau dipajang di depan pesantren dengan mengalungkan papan bertuliskan kesalahannya. Ketika terjadi ta'ziran ini, biasanya semua santri menonton dan menyoraki. Ini pelajaran sekaligus tes mental dan melatih tanggung jawab.

10. Berebut mencium tangan kiai
Pesantren salaf mengajarkan santri untuk memuliakan ilmu dan ahlinya. Salah satu bentuk memuliakan tersebut adalah bersalaman dan mencium tangan kiai. Ini terjadi di semua pesantren-pesantren salaf, kecuali pesantren modern. Selain itu, bersalaman dan mencium tangan kiai adalah sebuah upaya ngalap berkah agar mendapat ridla dari sang kiai.

11. Tirakat
Terakhir dalam tulisan ini, adalah tirakat. Para santri biasanya meminta ijazah kepada kiai akan amalan-amalan tertentu seperti: ngrowot (tidak makan nasi), puasa, shalat jamaah, manaqib, mujahadah, dalalil dll. Amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang menjadi perekat masuknya ilmu ke hati. Jadi, jangan heran kalau ada santri yang makannya nasi aking (oyek, thiwul) karena itu ia sedang menjalankan misi spiritual. Bahkan, di pesantren tertentu, banyak santri yang mengamalkan ilmu kanuragan sehingga tak mempan bacok.

Demikianlah 11 fakta menarik tentang santri di pesantren yang dapat saya rangkum. Semoga, ke depan para santri terus dapat berkiprah membangun masyarakat, negara dan bangsa dalam domain agama Islam yang rahmatan lil alamin. Kiriman dari Ahmad Naufa, Santri PP An-Nawawi Berjan Purworejo.
sourch: http://www.dream.co.id/news/11-fakta-unik-seputar-kehidupan-santri-151023c/berebut-sungkem-kiai-won.html 

MEMBERSIHKAN PIKIRAN



Membersihkan Pikiran


Membersihkan Pikiran
Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?
Menutupi telapak tangan saja sulit.
Tapi kalau daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi.
Begitu juga bila diri kita ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana.
Bahkan Bumi ini pun akan tampak buruk.
Jangan pernah menutup mata kita, walau hanya dengan daun yang kecil.
Jangan menutupi diri kita dengan sebuah pikiran buruk, walau hanya seujung kuku.
Bila diri kita tertutup, maka tertutuplah semua.
Air yang banyak di lautan luas yang dalam takkan pernah sanggup menenggelamkan sebuah perahu kecil yang ada di atasnya, kecuali kalau air itu mulai masuk ke dalam perahu.
Demikian juga dengan hidup ini, gosip & segala penilaian negatif akan selalu ada di sekeliling kita.
Namun semuanya itu takkan sanggup menenggelamkan kita, kecuali kita membiarkan semua itu masuk ke dalam pikiran kita.
Menjaga pikiran itu bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan adalah tanggung jawab kita masing-masing.
Kita tidak bisa menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang hadir dalam hidup kita bila kita sendiri tidak bertanggung jawab, karena sudah membiarkan “sampah” masuk & mengotori hidup kita.
Kita harus menyaring apapun yang masuk melalui pikiran kita sebagai pintu gerbangnya. Bila pikiran kita BAIK, maka akan terasa nyaman hidup kita. Jangan lengah.
 http://iphincow.com/2015/11/16/membersihkan-pikiran/

Cerita Motivasi (Kisah Sebatang Pensil)



Kisah Sebatang Pensil


Kisah Sebatang Pensil
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”

Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”

Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.

Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.

Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.

Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.

sourch: http://iphincow.com/2015/03/09/kisah-sebatang-pensil/
[Source : Like the Flowing River – Paulo Coelho]

YANG TERDALAM (Peterpan), Kunci gitar + Lirik


 YANG TERDALAM - Peterpan



Intro : C F G C

 C                      F
Lepas semua yang ku inginkan
    G            C
Tak akan ku ulangi
   C                     F
Maafkan jika kau ku sayangi
     G            C
Dan bila ku menanti
     C                       F
Pernahkah engkau coba mengerti
    G            C
Lihatlah ku disini
      C                  F
Mungkinkah jika aku bermimpi
    G              C
Salahkah tuk menanti

Interlude : C A# G# G C A# G# G

Reff :
          C         F
Takan lelah aku menanti
           G           C
Takan hilang cintaku ini
          C             F
Hingga saat kau tak kembali
            G         C
Kan ku pendam dihati saja

Interlude : C A# G# G 4x
            C F G C

  C          F          G             C
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
     C         F            G        C
Hingga tiada cinta yang tersisa dijiwa

LIRIK SHALAWAT TURI PUTIH

Turi Putih

Turi Putih, Turi Putih Di Tandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung, mbok iro kembange opo
(*)        Turi Putih, Turi Putih Di Tandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung, mbok iro kembange opo
Turi Putih, Turi Putih Di Tandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung, mbok iro kembange opo
mbok iro kembange opo, mbok iro kembange opo

Etan kali, kulon kali
Etan kali, kulon kali, Tengah-tengah tanduran pari
Saiki ngaji sesok yo ngaji, ayo manut poro kiyai
Etan kali, kulon kali
Etan kali, kulon kali, Tengah-tengah tanduran pari
Saiki ngaji sesok yo ngaji, ayo manut poro kiyai
ayo manut poro kiyai, ayo manut poro kiyai
            (*)
Tandurane tanduran kembang, kembang kenongo ning njero guo.
Tumpa’ane kereto jowo rudo papat rupo menungso.
Tandurane tanduran kembang, kembang kenongo ning njero guo
Tumpa’ane kereto jowo rudo papat rupo menungso.
rudo papat rupo menungso, rudo papat rupo menungso.
(*)
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Irhamna Jami’an, Warzuqna Wasian
Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah Kholiqul Anam
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Irhamna Jami’an, Warzuqna Wasian
Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah Kholiqul Anam
Ya Allah Kholiqul Anam.

Selasa, 08 Desember 2015

SEGUDANG KATA MUTIARA BUNG KARNO

Ir. Soekarno adalah founding father (bapak pendiri bangsa) kita. Kita sering melihat video-video saat bung karno ber-orasi di depan rakyat Indonesia pada zaman dahulu. Bagaimana luar biasanya beliau ketika ber-orasi, baik waktu peringatan hari kemerdekaan ataupun dalam acara-acara lainnya. Bung karno mampu membakar semangat para rakyatnya. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau lebih dari sekedar kata-kata indah bak mutiara, semua perkataan Bung Karno yang inspiratif dan penuh motivasi jelas menunjukkan bahwa dirinya merupakan seorang pemimpin yang visioner.

Mari kita lihat bebrapa kata mutiara dari Ir.Soekarno berikut ini.    
      
    "Berikan Aku seribu orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku seorang pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia."

    "Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun."

    "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya."

    "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

    "Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal asalnya kita adalah rakyat Gotong Royong."

    "Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia,bukan Hadikoesoemo buat Indonesia,bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, Semua buat semua!"

     "Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatyu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!"

Di atas adalah sedikit kutipan-kutipan kata mutiara yang pernah terlontar dari mulut seorang Ir. Soekarno. Cermatilah! Resapilah makna-makna yang terkandung di dalamnya!
Dan kita berusaha untuk tidak mengecewakan Bung Karno dan para pahlawan lainnya yang telah mengantarkan kita ke "pintu kemerdekaan" ini. Dengan kita berusa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi! 

Sehingga kita tidak hanya berkata "Aku bangga memiliki negara Indonesia!". Akan tetapi, kita juga harus membuat "Bangsa Indonesia bangga memiliki kita!".

Contoh abstrak sederhana



Sebagai pelajar kamu pasti pernah disuruh untuk membuat abstrak oleh bapak/ibu guru kamu, atau dosen bagi kamu yang statusnya sebagai Mahasiswa. Berikut ini contoh abstrak sederhana tetapi memenuhi unsur-unsur yang harus ada di dalam abstrak, yaitu: latar belakang, tujuan penelitian, metode penelitian, dan kesimpulan.
 Ini Contohnya:

Abstrak
            Kehidupan yang plural memang tidak bisa kita hindari. Menariknya, ketika kita mengkaji bagaimana kita bisa menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah ke-plural-an tersebut. Tujuan penulisan karya ini adalah mencoba untuk mencari cara bagaimana kehidupan harmonis itu dapat terwujud di tengah-tengah kehidupan yang plural. Dalam karya tulis ini penulis menggunaka metode studi pustaka untuk menggali informasi. Berdasarkan metode tersebut, penulis berpandangan bahwa toreransi merupakan salah satu cara yang sangat mungkin untuk mewujudkan keharmonisan dalam tatanan sosial yang kompleks/plural.



Di atas adalah abstrak dari karya tulis berikut:
 
MENJADI
MUSLIM YANG TOLERAN
Oleh: Mochammad Baidho Uli Nadri (15250053)

Pendahuluan

            Tak bisa dipungkiri, bumi sebagai tempat hunian umat manusia adalah satu. Namun, telah menjadi sunnatullah, para penghuninya terdiri dari berbagai suku, agama, dan lain sebagainya. Dengan demikian kemajemukan adalah fenomena yang tidak bisa kita hindari. Kemajemukan itu meliputi berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Kemajemukan tersebut memungkinkan nilai positif dan negatif terhadap bangsa Indonesia.
            Bhineka Tunggal Ika artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Ini menggambarkan bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam suku, adat istiadat, agama, dan bahasa daerah.
            Pluralitas bukan hanya terjadi dalam lingkup kelompok sosial yang besar seperti masyarakat disuatu negara, tetapi juga dalam lingkup kecil seperti rumah tangga. Bisa jadi, individu-individu dalam satu rumah tangga menganut agama yang berbeda. Manusia secara fitrah memiliki hak memilih keyakinannya. Manusia tidak bisa dipaksa agar mengikuti keyakinan tertentu. Jika dipaksakan juga, hal itu akan menyebabkan kemunafikan.
            Dewasa ini, sering kita dengar istilah teroris, dan lebih ironinya lagi teroris sering dicirikan dengan orang Islam. Jika benar Islam agama toleran, mengapa masih ada sebagian dari umatnya yang melakukan kekerasan? Lalu bagaimana mewujudkan kerukunan dalam beragama? Padahal Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang rahmatallil’alamin.
               
 
Pembahasan
 
          Kita semua tentunya tidak asing lagi mendengar kata ‘toleransi’. Toleransi adalah rasa hormat, penerimaan, dan apresiasi terhadap keragaman budaya dan ekspresi kita. Toleransi adalah harmoni dalam perbedaan, yang membuat perdamaian menjadi mungkin.
            Istilah Toleransi berasal dari bahasa Inggris ‘tolerance’ yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan pesetujuan. Bahasa Arab menterjemahkan Toleransi dengan ‘tasamuh’, berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.
            Agama bagi setiap pemeluknya memang merupakan wahyu atau petunjuk Tuhan (revelation). Namun, kehidupan beragama tetaplah merupakan fenomena budaya. Sebagai implikasinya, praktik keberagamaan masyarakat senantiasa melahirkan bentuk-bentuk plural bahkan melahirkan pengelompokan-pengelompokan. Tidak jarang juga terjadi kerusuhan-kerusuhan yang mengatasnamakan agama, tindakan terorisme misalnya.
            Tindakan terorisme yang dilakukan para teroris Muslim disebabkan berbagai faktor. Terorisme di dunia Islam didorong oleh tujuan menciptakan kehidupan Islami dengan menyerang isme-isme, institusi-institusi, dan simbol-simbol yang tidak Islami. Budaya Islam telah dicemari oleh pemahaman-pemahaman radikal bahwa “ayat-ayat pedang” telah menghapus ayat-ayat yang mengajarkan toleransi dan inklusivisme.
            Fakta telah bercerita bagaimana ketidakselarasan kehidupan yang plural telah menjadi pemicu terjadinya kerusuhan. Banyak analisis menyatakan kerusuhan antar etnis dan antar-agama dipicu oleh provokator. Akan tetapi, patut disadari bahwa sering kali bukanlah provokator yang lebih berbahaya bagi persatuan suatu bangsa. Melainkan rasa benci dan maksud buruk yang bersarang di dada sebagian manusia. Diatur oleh setan yang merupakan provokator sejati.

           Sementara Arkoun menawarkan solusi berupa “deideologisasi agama”. Deideologisasi adalah upaya membedakan antara agama autentik dengan agama yang terdeideologisasi oleh kelompok-kelompok radikal. Agama yang autentik adalah agama yang terbuka dan toleran. Sedangkan agama yang terdeideologisasi adalah agama yang ditafsirkan secara reduktif, manipulatif, dan subjektif menjadi agama yang tertutup dan intoleran.
            Pandangan ini ada benarnya, dengan bukti bahwa Yahudi merupakan agama autentik. Yahudi  mengajarkan bahwa membunuh satu orang ibarat membunuh seluruh manusia. Begitu pula agama kristen, agama kristen autentik mengajarkan bahwa bila pipi kananmu ditampar, maka berikanlah pipi kirimu. Rasulullah SAW, malah memberikan hal yang lebih baik bukanya balas dendam ketika disakiti. Nabi pernah menjenguk non-Muslim yang pernah meludahinya. Nabi bahkan sudi menyuapi orang yahudi buta yang sering mencibirnya di pinggir jalan. Sayangnya etika toleran dan akhlak mulia seperti ini “tak terpikirkan” oleh kelompok-kelompok radikal.
            Untuk menciptakan keharmonisan yang plural dalam beragama, banyak dilakukan berbagai musyawarah. Baik yang bersifat intern maupun ekstern. Upaya tersebut berhasil menciptakan kehidupan yang rukun. Namun, dikalangan sebagian umat beragama masih sering muncul sifat yang tidak tulus atau terpaksa. Hal tersebut sewaktu-waktu dapat mengganggu keharmonisan kehidupan yang plural itu.
            Ketulusan dalam memahami dan menyikapi kehidupan bangsa yang multikultural amatlah signifikan bagi kelangsungan harmonitas sosial. Jika kita semua memiliki ketulusan dalam menghargai serta menghormati para penganut kepercayaan yang berbeda dengan kita, tentunya akan menciptakan kehidupan yang rukun.


Penutup

            Kita tidak akan terjebak dalam gerakan radikalisme, jika kita benar-benar faham dengan toleransi. Karena toleransi merupakan sebuah jalan menuju kerukunan. Kerukunan adalah suatu kewajiban agama dan merupakan bentuk ketaatan terhadap Tuhan. Ia juga merupakan tuntutan budaya dan adat istiadat. Sinergi keduanya (agama-budaya) senantiasa sangat mempengaruhi cara pandang dan sikap masyarakatnya mengenai berbagai hal. Termasuk dalam upaya menciptakan hidup harmonis di tengah pluralitas. Pengaruh agama dan budaya dalam memandang pluralitas kehidupan memang sangat menonjol. Sebab, jika agama mempengaruhi cara pandang dan sikap para pemeluknya, adat istiadat juga demikian.
 
                Dalam percakapan sehari-hari seolah-olah tidak terdapat perbedaan antara kerukunan dengan toleransi. Sebenarnya antara kedua kata ini, terdapat perbedaan, namun saling memerlukan. Kerukunan mempertemukan unsur-unsur yang berbeda, sedang toleransi merupakan sikap atau refleksi dari kerukunan. Tanpa kerukunan toleransi tidak pernah ada, sedang toleransi tidak akan tercermin bila kerukunan belum terwujud.
                        Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita memiliki sifat toleransi, karena pluralitas agama dan umat beragama adalah kenyataan. Sebelum Nabi Muhammad SAW di utus menjadi Rosul, di tanah Arab sudah muncul berbagai jenis agama, seperti yahudi, majusi, zoroaster, dan shabi’ah. Sedangkan di Indonesia, sebelum Islam datang ke Indonesia, Agama Budha dan Hindu sudah ada terlebih dahulu. Islam datang bukan untuk memerangi mereka. Islam datang untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka yang masih berada di jalan yang belum benar.




Daftar Pustaka

Al Munawar, Said Agil Husin. 2005. Fikih Hubungan Antar Agama. Ciputat: PT Ciputat Press.
Harahap, Syahrin. 2011. Teologi Kerukunan. Jakarta: Prenada.
Masduqi, Irwan. 2011. Berislam Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Moqsith, Abd. Ghazali. 2009. Argumen Pluralitas Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an. Depok: Kata Kita.