Selasa, 08 Desember 2015

Contoh abstrak sederhana



Sebagai pelajar kamu pasti pernah disuruh untuk membuat abstrak oleh bapak/ibu guru kamu, atau dosen bagi kamu yang statusnya sebagai Mahasiswa. Berikut ini contoh abstrak sederhana tetapi memenuhi unsur-unsur yang harus ada di dalam abstrak, yaitu: latar belakang, tujuan penelitian, metode penelitian, dan kesimpulan.
 Ini Contohnya:

Abstrak
            Kehidupan yang plural memang tidak bisa kita hindari. Menariknya, ketika kita mengkaji bagaimana kita bisa menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah ke-plural-an tersebut. Tujuan penulisan karya ini adalah mencoba untuk mencari cara bagaimana kehidupan harmonis itu dapat terwujud di tengah-tengah kehidupan yang plural. Dalam karya tulis ini penulis menggunaka metode studi pustaka untuk menggali informasi. Berdasarkan metode tersebut, penulis berpandangan bahwa toreransi merupakan salah satu cara yang sangat mungkin untuk mewujudkan keharmonisan dalam tatanan sosial yang kompleks/plural.



Di atas adalah abstrak dari karya tulis berikut:
 
MENJADI
MUSLIM YANG TOLERAN
Oleh: Mochammad Baidho Uli Nadri (15250053)

Pendahuluan

            Tak bisa dipungkiri, bumi sebagai tempat hunian umat manusia adalah satu. Namun, telah menjadi sunnatullah, para penghuninya terdiri dari berbagai suku, agama, dan lain sebagainya. Dengan demikian kemajemukan adalah fenomena yang tidak bisa kita hindari. Kemajemukan itu meliputi berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Kemajemukan tersebut memungkinkan nilai positif dan negatif terhadap bangsa Indonesia.
            Bhineka Tunggal Ika artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Ini menggambarkan bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam suku, adat istiadat, agama, dan bahasa daerah.
            Pluralitas bukan hanya terjadi dalam lingkup kelompok sosial yang besar seperti masyarakat disuatu negara, tetapi juga dalam lingkup kecil seperti rumah tangga. Bisa jadi, individu-individu dalam satu rumah tangga menganut agama yang berbeda. Manusia secara fitrah memiliki hak memilih keyakinannya. Manusia tidak bisa dipaksa agar mengikuti keyakinan tertentu. Jika dipaksakan juga, hal itu akan menyebabkan kemunafikan.
            Dewasa ini, sering kita dengar istilah teroris, dan lebih ironinya lagi teroris sering dicirikan dengan orang Islam. Jika benar Islam agama toleran, mengapa masih ada sebagian dari umatnya yang melakukan kekerasan? Lalu bagaimana mewujudkan kerukunan dalam beragama? Padahal Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang rahmatallil’alamin.
               
 
Pembahasan
 
          Kita semua tentunya tidak asing lagi mendengar kata ‘toleransi’. Toleransi adalah rasa hormat, penerimaan, dan apresiasi terhadap keragaman budaya dan ekspresi kita. Toleransi adalah harmoni dalam perbedaan, yang membuat perdamaian menjadi mungkin.
            Istilah Toleransi berasal dari bahasa Inggris ‘tolerance’ yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan pesetujuan. Bahasa Arab menterjemahkan Toleransi dengan ‘tasamuh’, berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.
            Agama bagi setiap pemeluknya memang merupakan wahyu atau petunjuk Tuhan (revelation). Namun, kehidupan beragama tetaplah merupakan fenomena budaya. Sebagai implikasinya, praktik keberagamaan masyarakat senantiasa melahirkan bentuk-bentuk plural bahkan melahirkan pengelompokan-pengelompokan. Tidak jarang juga terjadi kerusuhan-kerusuhan yang mengatasnamakan agama, tindakan terorisme misalnya.
            Tindakan terorisme yang dilakukan para teroris Muslim disebabkan berbagai faktor. Terorisme di dunia Islam didorong oleh tujuan menciptakan kehidupan Islami dengan menyerang isme-isme, institusi-institusi, dan simbol-simbol yang tidak Islami. Budaya Islam telah dicemari oleh pemahaman-pemahaman radikal bahwa “ayat-ayat pedang” telah menghapus ayat-ayat yang mengajarkan toleransi dan inklusivisme.
            Fakta telah bercerita bagaimana ketidakselarasan kehidupan yang plural telah menjadi pemicu terjadinya kerusuhan. Banyak analisis menyatakan kerusuhan antar etnis dan antar-agama dipicu oleh provokator. Akan tetapi, patut disadari bahwa sering kali bukanlah provokator yang lebih berbahaya bagi persatuan suatu bangsa. Melainkan rasa benci dan maksud buruk yang bersarang di dada sebagian manusia. Diatur oleh setan yang merupakan provokator sejati.

           Sementara Arkoun menawarkan solusi berupa “deideologisasi agama”. Deideologisasi adalah upaya membedakan antara agama autentik dengan agama yang terdeideologisasi oleh kelompok-kelompok radikal. Agama yang autentik adalah agama yang terbuka dan toleran. Sedangkan agama yang terdeideologisasi adalah agama yang ditafsirkan secara reduktif, manipulatif, dan subjektif menjadi agama yang tertutup dan intoleran.
            Pandangan ini ada benarnya, dengan bukti bahwa Yahudi merupakan agama autentik. Yahudi  mengajarkan bahwa membunuh satu orang ibarat membunuh seluruh manusia. Begitu pula agama kristen, agama kristen autentik mengajarkan bahwa bila pipi kananmu ditampar, maka berikanlah pipi kirimu. Rasulullah SAW, malah memberikan hal yang lebih baik bukanya balas dendam ketika disakiti. Nabi pernah menjenguk non-Muslim yang pernah meludahinya. Nabi bahkan sudi menyuapi orang yahudi buta yang sering mencibirnya di pinggir jalan. Sayangnya etika toleran dan akhlak mulia seperti ini “tak terpikirkan” oleh kelompok-kelompok radikal.
            Untuk menciptakan keharmonisan yang plural dalam beragama, banyak dilakukan berbagai musyawarah. Baik yang bersifat intern maupun ekstern. Upaya tersebut berhasil menciptakan kehidupan yang rukun. Namun, dikalangan sebagian umat beragama masih sering muncul sifat yang tidak tulus atau terpaksa. Hal tersebut sewaktu-waktu dapat mengganggu keharmonisan kehidupan yang plural itu.
            Ketulusan dalam memahami dan menyikapi kehidupan bangsa yang multikultural amatlah signifikan bagi kelangsungan harmonitas sosial. Jika kita semua memiliki ketulusan dalam menghargai serta menghormati para penganut kepercayaan yang berbeda dengan kita, tentunya akan menciptakan kehidupan yang rukun.


Penutup

            Kita tidak akan terjebak dalam gerakan radikalisme, jika kita benar-benar faham dengan toleransi. Karena toleransi merupakan sebuah jalan menuju kerukunan. Kerukunan adalah suatu kewajiban agama dan merupakan bentuk ketaatan terhadap Tuhan. Ia juga merupakan tuntutan budaya dan adat istiadat. Sinergi keduanya (agama-budaya) senantiasa sangat mempengaruhi cara pandang dan sikap masyarakatnya mengenai berbagai hal. Termasuk dalam upaya menciptakan hidup harmonis di tengah pluralitas. Pengaruh agama dan budaya dalam memandang pluralitas kehidupan memang sangat menonjol. Sebab, jika agama mempengaruhi cara pandang dan sikap para pemeluknya, adat istiadat juga demikian.
 
                Dalam percakapan sehari-hari seolah-olah tidak terdapat perbedaan antara kerukunan dengan toleransi. Sebenarnya antara kedua kata ini, terdapat perbedaan, namun saling memerlukan. Kerukunan mempertemukan unsur-unsur yang berbeda, sedang toleransi merupakan sikap atau refleksi dari kerukunan. Tanpa kerukunan toleransi tidak pernah ada, sedang toleransi tidak akan tercermin bila kerukunan belum terwujud.
                        Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita memiliki sifat toleransi, karena pluralitas agama dan umat beragama adalah kenyataan. Sebelum Nabi Muhammad SAW di utus menjadi Rosul, di tanah Arab sudah muncul berbagai jenis agama, seperti yahudi, majusi, zoroaster, dan shabi’ah. Sedangkan di Indonesia, sebelum Islam datang ke Indonesia, Agama Budha dan Hindu sudah ada terlebih dahulu. Islam datang bukan untuk memerangi mereka. Islam datang untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka yang masih berada di jalan yang belum benar.




Daftar Pustaka

Al Munawar, Said Agil Husin. 2005. Fikih Hubungan Antar Agama. Ciputat: PT Ciputat Press.
Harahap, Syahrin. 2011. Teologi Kerukunan. Jakarta: Prenada.
Masduqi, Irwan. 2011. Berislam Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Moqsith, Abd. Ghazali. 2009. Argumen Pluralitas Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an. Depok: Kata Kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar