1. Para santri ngetel (masak) sendiri
Masak
sendiri merupakan salah satu hal yang mendewasakan dalam dunia
pesantren. Tempo dulu, ketika belum ada kompor, santri masak memakai
kayu bakar. Ketika musim hujan tiba, tak jarang banyak hanger atau
sandal jepit yang hilang. Ke mana hilangnya, ya, jelas ke tungku untuk
memasak. Namun, sekarang jarang santri yang masak sendiri, seiring
dengan perkembangan jaman. Jika mencari santri memasak di dapur, silakan
cari pondok yang masih salaf.
2. Makan se-lengser bersama
Inilah
yang membuat apapun makanannya akan enak terasa. Santri yang memasak,
ketika sudah siap saji, makanan ditiriskan di lengser atau daun pisang.
Kemudian dimakan secara bersama-sama oleh 5 - 10 orang. Meski nasi dan
sayur masih panas, para santri tak peduli untuk melahapnya. Soal tangan
gosong atau lidah terbakar, itu soal nanti. Masalahnya, kalau tidak
berani ambil resiko itu, dijamin tidak kenyang karena kalah dengan yang
lain.
3. Antri mandi
Pesantren yang jumlah
santrinya ribuan, ketika pagi dan sore hari akan ada pemandangan menarik
di kamar mandi atau kali (sungai). Satu kamar mandi, bisa antre tiga
orang. Jika tak sabar, yang ngantri akan menggedor-gedor pintu. Bisa
dibayangkan bagaimana rasanya buang hajat dengan pintu digedor-gedor.
Berbeda dengan kamar mandi, kalau mandi di sungai antrinya petelesan
celana untuk santri putra. Sungguh menggelikan.
4. Terserang penyakit kulit
Penyakit
kulit atau kudis, akrab bagi santri baru. Hal ini seakan menjadi
"ujian" pertama bagi santri; apakah nantinya ia akan betah tinggal di
pesantren atau tidak. Saking parahnya, santri yang terkena penyakit ini
kadang sampai tak bisa duduk atau sulit jalan. Mau dibawa ke rumah
sakit, dokter, tak jua sembuh-sembuh. Hanya waktu yang bisa
menyembuhkannya, hingga badan kebal dan penyakit merasa bosan
sendiri.Namun, itu dulu. Pesantren sekarang sudah banyak memiliki air
bersih dan sanitasi yang memadahi.
5. Tidur di lantai berbantal pakaian kotor
Dulu
tak ada ceritanya santri tidur di kasur. Tidurnya cukup merebahkan
badan di lantai kamar, depan kamar atau serambi masjid. Untuk bantal,
pakaian kotor dikumpulkan lalu dibungkus dengan sarung. Hal itu sudah
lebih dari cukup menghilangkan kantuk karena kesibukan ngaji pagi, siang
sampai malam.
6. Berebut IN atau jajanan
Sudah
menjadi tradisi, ketika ada santri baru atau menerima wesel atau
sehabis pulang selalu membawa aneka jajanan. Ketika si santri datang
diantar orang-tua, seluruh anggota kamar akan bersikap dewasa dan
melayani tamu dengan penuh penghormatan, seperti anjuran baginda nabi.
Namun
sejurus kemudian, ketika para tamu orang tua atau wali santri itu
pulang, akan segera terjadi kegaduhan: berebut jajanan. Ini suatu
tradisi yang lazim terjadi di pesantren-pesantren salaf, meski latar
belakang santri adalah seorang yang mampu. Berebut I.N. atau jajanan ini
menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan.
7. Dikejar setoran
Setoran
disini bukanlah setoran yang lazim terjadi antara sopir angkot dengan
juragannya, namun setoran hafalan nadzaman dan syair-syair kitab.
Biasanya, seminggu sekali para santri setoran hafalan tersebut kepada
sang ustadz. Jika tidak memenuhi target, si santri akan dita'zir dan lebih ekstrem lagi tak bisa naik kelas.
8. Mayoran
Istilah
mayoran dewasa ini jarang terdengar. Ini adalah manifestasi kekompakan
atau rasa syukur santri setelah mengkhatamkan kitab. Biasanya, ada
pengurus kelas yang menariki iuran lalu dibelikan daging. Daging,
merupakan barang mewah bagi santri yang dengan kultur pesantren salaf
rata-rata menyuruh untuk hidup senderhana, riyadlah dan tirakat. Namun,
sepertinya tradisi mayoran ini sekarang lekang oleh waktu karena makanan
mewah sudah ada dimana-mana.
9. Ta'zir (hukuman)
Pesantren
dimanapun memiliki peraturan. Jika ada santri yang melanggar, ia akan
dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang diceburkan ke kolam atau
sunga, dicukur gundul atau dipajang di depan pesantren dengan
mengalungkan papan bertuliskan kesalahannya. Ketika terjadi ta'ziran ini, biasanya semua santri menonton dan menyoraki. Ini pelajaran sekaligus tes mental dan melatih tanggung jawab.
10. Berebut mencium tangan kiai
Pesantren
salaf mengajarkan santri untuk memuliakan ilmu dan ahlinya. Salah satu
bentuk memuliakan tersebut adalah bersalaman dan mencium tangan kiai.
Ini terjadi di semua pesantren-pesantren salaf, kecuali pesantren
modern. Selain itu, bersalaman dan mencium tangan kiai adalah sebuah
upaya ngalap berkah agar mendapat ridla dari sang kiai.
11. Tirakat
Terakhir
dalam tulisan ini, adalah tirakat. Para santri biasanya meminta ijazah
kepada kiai akan amalan-amalan tertentu seperti: ngrowot (tidak makan
nasi), puasa, shalat jamaah, manaqib, mujahadah, dalalil dll. Amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang
menjadi perekat masuknya ilmu ke hati. Jadi, jangan heran kalau ada
santri yang makannya nasi aking (oyek, thiwul) karena itu ia sedang
menjalankan misi spiritual. Bahkan, di pesantren tertentu, banyak santri
yang mengamalkan ilmu kanuragan sehingga tak mempan bacok.
Demikianlah
11 fakta menarik tentang santri di pesantren yang dapat saya rangkum.
Semoga, ke depan para santri terus dapat berkiprah membangun masyarakat,
negara dan bangsa dalam domain agama Islam yang rahmatan lil alamin. Kiriman dari Ahmad Naufa, Santri PP An-Nawawi Berjan Purworejo.
sourch: http://www.dream.co.id/news/11-fakta-unik-seputar-kehidupan-santri-151023c/berebut-sungkem-kiai-won.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar