1. Para santri ngetel (masak) sendiri
Masak
sendiri merupakan salah satu hal yang mendewasakan dalam dunia
pesantren. Tempo dulu, ketika belum ada kompor, santri masak memakai
kayu bakar. Ketika musim hujan tiba, tak jarang banyak hanger atau
sandal jepit yang hilang. Ke mana hilangnya, ya, jelas ke tungku untuk
memasak. Namun, sekarang jarang santri yang masak sendiri, seiring
dengan perkembangan jaman. Jika mencari santri memasak di dapur, silakan
cari pondok yang masih salaf.
2. Makan se-lengser bersama
Inilah
yang membuat apapun makanannya akan enak terasa. Santri yang memasak,
ketika sudah siap saji, makanan ditiriskan di lengser atau daun pisang.
Kemudian dimakan secara bersama-sama oleh 5 - 10 orang. Meski nasi dan
sayur masih panas, para santri tak peduli untuk melahapnya. Soal tangan
gosong atau lidah terbakar, itu soal nanti. Masalahnya, kalau tidak
berani ambil resiko itu, dijamin tidak kenyang karena kalah dengan yang
lain.
3. Antri mandi
Pesantren yang jumlah
santrinya ribuan, ketika pagi dan sore hari akan ada pemandangan menarik
di kamar mandi atau kali (sungai). Satu kamar mandi, bisa antre tiga
orang. Jika tak sabar, yang ngantri akan menggedor-gedor pintu. Bisa
dibayangkan bagaimana rasanya buang hajat dengan pintu digedor-gedor.
Berbeda dengan kamar mandi, kalau mandi di sungai antrinya petelesan
celana untuk santri putra. Sungguh menggelikan.
4. Terserang penyakit kulit
Penyakit
kulit atau kudis, akrab bagi santri baru. Hal ini seakan menjadi
"ujian" pertama bagi santri; apakah nantinya ia akan betah tinggal di
pesantren atau tidak. Saking parahnya, santri yang terkena penyakit ini
kadang sampai tak bisa duduk atau sulit jalan. Mau dibawa ke rumah
sakit, dokter, tak jua sembuh-sembuh. Hanya waktu yang bisa
menyembuhkannya, hingga badan kebal dan penyakit merasa bosan
sendiri.Namun, itu dulu. Pesantren sekarang sudah banyak memiliki air
bersih dan sanitasi yang memadahi.
5. Tidur di lantai berbantal pakaian kotor
Dulu
tak ada ceritanya santri tidur di kasur. Tidurnya cukup merebahkan
badan di lantai kamar, depan kamar atau serambi masjid. Untuk bantal,
pakaian kotor dikumpulkan lalu dibungkus dengan sarung. Hal itu sudah
lebih dari cukup menghilangkan kantuk karena kesibukan ngaji pagi, siang
sampai malam.
6. Berebut IN atau jajanan
Sudah
menjadi tradisi, ketika ada santri baru atau menerima wesel atau
sehabis pulang selalu membawa aneka jajanan. Ketika si santri datang
diantar orang-tua, seluruh anggota kamar akan bersikap dewasa dan
melayani tamu dengan penuh penghormatan, seperti anjuran baginda nabi.
Namun
sejurus kemudian, ketika para tamu orang tua atau wali santri itu
pulang, akan segera terjadi kegaduhan: berebut jajanan. Ini suatu
tradisi yang lazim terjadi di pesantren-pesantren salaf, meski latar
belakang santri adalah seorang yang mampu. Berebut I.N. atau jajanan ini
menjadi suatu hal yang menarik dan menyenangkan.
7. Dikejar setoran
Setoran
disini bukanlah setoran yang lazim terjadi antara sopir angkot dengan
juragannya, namun setoran hafalan nadzaman dan syair-syair kitab.
Biasanya, seminggu sekali para santri setoran hafalan tersebut kepada
sang ustadz. Jika tidak memenuhi target, si santri akan dita'zir dan lebih ekstrem lagi tak bisa naik kelas.
8. Mayoran
Istilah
mayoran dewasa ini jarang terdengar. Ini adalah manifestasi kekompakan
atau rasa syukur santri setelah mengkhatamkan kitab. Biasanya, ada
pengurus kelas yang menariki iuran lalu dibelikan daging. Daging,
merupakan barang mewah bagi santri yang dengan kultur pesantren salaf
rata-rata menyuruh untuk hidup senderhana, riyadlah dan tirakat. Namun,
sepertinya tradisi mayoran ini sekarang lekang oleh waktu karena makanan
mewah sudah ada dimana-mana.
9. Ta'zir (hukuman)
Pesantren
dimanapun memiliki peraturan. Jika ada santri yang melanggar, ia akan
dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang diceburkan ke kolam atau
sunga, dicukur gundul atau dipajang di depan pesantren dengan
mengalungkan papan bertuliskan kesalahannya. Ketika terjadi ta'ziran ini, biasanya semua santri menonton dan menyoraki. Ini pelajaran sekaligus tes mental dan melatih tanggung jawab.
10. Berebut mencium tangan kiai
Pesantren
salaf mengajarkan santri untuk memuliakan ilmu dan ahlinya. Salah satu
bentuk memuliakan tersebut adalah bersalaman dan mencium tangan kiai.
Ini terjadi di semua pesantren-pesantren salaf, kecuali pesantren
modern. Selain itu, bersalaman dan mencium tangan kiai adalah sebuah
upaya ngalap berkah agar mendapat ridla dari sang kiai.
11. Tirakat
Terakhir
dalam tulisan ini, adalah tirakat. Para santri biasanya meminta ijazah
kepada kiai akan amalan-amalan tertentu seperti: ngrowot (tidak makan
nasi), puasa, shalat jamaah, manaqib, mujahadah, dalalil dll. Amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang
menjadi perekat masuknya ilmu ke hati. Jadi, jangan heran kalau ada
santri yang makannya nasi aking (oyek, thiwul) karena itu ia sedang
menjalankan misi spiritual. Bahkan, di pesantren tertentu, banyak santri
yang mengamalkan ilmu kanuragan sehingga tak mempan bacok.
Demikianlah
11 fakta menarik tentang santri di pesantren yang dapat saya rangkum.
Semoga, ke depan para santri terus dapat berkiprah membangun masyarakat,
negara dan bangsa dalam domain agama Islam yang rahmatan lil alamin. Kiriman dari Ahmad Naufa, Santri PP An-Nawawi Berjan Purworejo.
sourch: http://www.dream.co.id/news/11-fakta-unik-seputar-kehidupan-santri-151023c/berebut-sungkem-kiai-won.html
Kamis, 10 Desember 2015
MEMBERSIHKAN PIKIRAN
Membersihkan Pikiran

Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?
Menutupi telapak tangan saja sulit.
Tapi kalau daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutuplah bumi.
Begitu juga bila diri kita ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan di mana-mana.
Bahkan Bumi ini pun akan tampak buruk.
Jangan pernah menutup mata kita, walau hanya dengan daun yang kecil.
Jangan menutupi diri kita dengan sebuah pikiran buruk, walau hanya seujung kuku.
Bila diri kita tertutup, maka tertutuplah semua.
Air yang banyak di lautan luas yang dalam takkan pernah sanggup menenggelamkan sebuah perahu kecil yang ada di atasnya, kecuali kalau air itu mulai masuk ke dalam perahu.
Demikian juga dengan hidup ini, gosip & segala penilaian negatif akan selalu ada di sekeliling kita.
Namun semuanya itu takkan sanggup menenggelamkan kita, kecuali kita membiarkan semua itu masuk ke dalam pikiran kita.
Menjaga pikiran itu bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan adalah tanggung jawab kita masing-masing.
Kita tidak bisa menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang hadir dalam hidup kita bila kita sendiri tidak bertanggung jawab, karena sudah membiarkan “sampah” masuk & mengotori hidup kita.
Jangan menutupi diri kita dengan sebuah pikiran buruk, walau hanya seujung kuku.
Bila diri kita tertutup, maka tertutuplah semua.
Air yang banyak di lautan luas yang dalam takkan pernah sanggup menenggelamkan sebuah perahu kecil yang ada di atasnya, kecuali kalau air itu mulai masuk ke dalam perahu.
Demikian juga dengan hidup ini, gosip & segala penilaian negatif akan selalu ada di sekeliling kita.
Namun semuanya itu takkan sanggup menenggelamkan kita, kecuali kita membiarkan semua itu masuk ke dalam pikiran kita.
Menjaga pikiran itu bukanlah tanggung jawab orang lain, melainkan adalah tanggung jawab kita masing-masing.
Kita tidak bisa menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang hadir dalam hidup kita bila kita sendiri tidak bertanggung jawab, karena sudah membiarkan “sampah” masuk & mengotori hidup kita.
Kita harus menyaring apapun yang masuk melalui pikiran kita sebagai pintu gerbangnya. Bila pikiran kita BAIK, maka akan terasa nyaman hidup kita. Jangan lengah.http://iphincow.com/2015/11/16/membersihkan-pikiran/
Cerita Motivasi (Kisah Sebatang Pensil)
Kisah Sebatang Pensil

Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu
bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita?
Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek
memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih
penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang
Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau
sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala
sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil
menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani
hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan
pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita
menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan
kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini.
Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh
lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung
beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan
menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus
untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak
apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita
jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian
luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi,
perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula
apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau
lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk
menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
sourch: http://iphincow.com/2015/03/09/kisah-sebatang-pensil/
sourch: http://iphincow.com/2015/03/09/kisah-sebatang-pensil/
[Source : Like the Flowing River – Paulo Coelho]
YANG TERDALAM (Peterpan), Kunci gitar + Lirik
YANG TERDALAM - Peterpan
Intro : C F G C
C F
Lepas semua yang ku inginkan
G C
Tak akan ku ulangi
C F
Maafkan jika kau ku sayangi
G C
Dan bila ku menanti
C F
Pernahkah engkau coba mengerti
G C
Lihatlah ku disini
C F
Mungkinkah jika aku bermimpi
G C
Salahkah tuk menanti
Interlude : C A# G# G C A# G# G
Reff :
C F
Takan lelah aku menanti
G C
Takan hilang cintaku ini
C F
Hingga saat kau tak kembali
G C
Kan ku pendam dihati saja
Interlude : C A# G# G 4x
C F G C
C F G C
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
C F G C
Hingga tiada cinta yang tersisa dijiwa
C F
Lepas semua yang ku inginkan
G C
Tak akan ku ulangi
C F
Maafkan jika kau ku sayangi
G C
Dan bila ku menanti
C F
Pernahkah engkau coba mengerti
G C
Lihatlah ku disini
C F
Mungkinkah jika aku bermimpi
G C
Salahkah tuk menanti
Interlude : C A# G# G C A# G# G
Reff :
C F
Takan lelah aku menanti
G C
Takan hilang cintaku ini
C F
Hingga saat kau tak kembali
G C
Kan ku pendam dihati saja
Interlude : C A# G# G 4x
C F G C
C F G C
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
C F G C
Hingga tiada cinta yang tersisa dijiwa
LIRIK SHALAWAT TURI PUTIH
Turi Putih
Turi Putih, Turi Putih Di Tandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung, mbok iro kembange opo
(*) Turi Putih, Turi Putih Di Tandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung, mbok iro kembange opo
Turi Putih, Turi Putih Di Tandur ning kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung, mbok iro kembange opo
mbok iro kembange opo, mbok iro kembange opo
Etan kali, kulon kali
Etan kali, kulon kali, Tengah-tengah tanduran pari
Saiki ngaji sesok yo ngaji, ayo manut poro kiyai
Etan kali, kulon kali
Etan kali, kulon kali, Tengah-tengah tanduran pari
Saiki ngaji sesok yo ngaji, ayo manut poro kiyai
ayo manut poro kiyai, ayo manut poro kiyai
(*)
Tandurane tanduran kembang, kembang kenongo ning njero guo.
Tumpa’ane kereto jowo rudo papat rupo menungso.
Tandurane tanduran kembang, kembang kenongo ning njero guo
Tumpa’ane kereto jowo rudo papat rupo menungso.
rudo papat rupo menungso, rudo papat rupo menungso.
(*)
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Irhamna Jami’an, Warzuqna Wasian
Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah Kholiqul Anam
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Ya Allah Ya Rahman, Antal Nuzilul Qur’an
Irhamna Jami’an, Warzuqna Wasian
Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah Kholiqul Anam
Ya Allah Kholiqul Anam.
Selasa, 08 Desember 2015
SEGUDANG KATA MUTIARA BUNG KARNO
Ir. Soekarno adalah founding father (bapak pendiri bangsa) kita. Kita sering melihat video-video saat bung karno ber-orasi di depan rakyat Indonesia pada zaman dahulu. Bagaimana luar biasanya beliau ketika ber-orasi, baik waktu peringatan hari kemerdekaan ataupun dalam acara-acara lainnya. Bung karno mampu membakar semangat para rakyatnya. Kata-kata yang keluar dari mulut beliau lebih dari sekedar kata-kata indah bak mutiara, semua perkataan Bung Karno yang inspiratif dan penuh motivasi jelas menunjukkan bahwa dirinya merupakan seorang pemimpin yang visioner.
Mari kita lihat bebrapa kata mutiara dari Ir.Soekarno berikut ini.
"Berikan Aku seribu orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku seorang pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia."
"Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun."
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya."
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
"Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal asalnya kita adalah rakyat Gotong Royong."
"Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia,bukan Hadikoesoemo buat Indonesia,bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, Semua buat semua!"
"Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatyu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!"
Di atas adalah sedikit kutipan-kutipan kata mutiara yang pernah terlontar dari mulut seorang Ir. Soekarno. Cermatilah! Resapilah makna-makna yang terkandung di dalamnya!
Dan kita berusaha untuk tidak mengecewakan Bung Karno dan para pahlawan lainnya yang telah mengantarkan kita ke "pintu kemerdekaan" ini. Dengan kita berusa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi!
Sehingga kita tidak hanya berkata "Aku bangga memiliki negara Indonesia!". Akan tetapi, kita juga harus membuat "Bangsa Indonesia bangga memiliki kita!".
Contoh abstrak sederhana
Sebagai pelajar kamu pasti pernah disuruh untuk membuat abstrak oleh bapak/ibu guru kamu, atau dosen bagi kamu yang statusnya sebagai Mahasiswa. Berikut ini contoh abstrak sederhana tetapi memenuhi unsur-unsur yang harus ada di dalam abstrak, yaitu: latar belakang, tujuan penelitian, metode penelitian, dan kesimpulan.
Ini Contohnya:
Abstrak
Kehidupan yang
plural memang tidak bisa kita hindari. Menariknya, ketika kita mengkaji
bagaimana kita bisa menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah ke-plural-an tersebut.
Tujuan penulisan karya ini adalah mencoba untuk mencari cara bagaimana
kehidupan harmonis itu dapat terwujud di tengah-tengah kehidupan yang plural.
Dalam karya tulis ini penulis menggunaka metode studi pustaka untuk menggali
informasi. Berdasarkan metode tersebut, penulis berpandangan bahwa toreransi
merupakan salah satu cara yang sangat mungkin untuk mewujudkan keharmonisan
dalam tatanan sosial yang kompleks/plural.
Di atas adalah abstrak dari karya tulis berikut:
MENJADI
MUSLIM YANG TOLERAN
Oleh: Mochammad Baidho Uli Nadri (15250053)
Pendahuluan
Tak
bisa dipungkiri, bumi sebagai tempat hunian umat manusia adalah satu. Namun,
telah menjadi sunnatullah, para penghuninya terdiri dari berbagai suku,
agama, dan lain sebagainya. Dengan demikian kemajemukan adalah fenomena yang
tidak bisa kita hindari. Kemajemukan itu meliputi berbagai aspek kehidupan,
seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Kemajemukan
tersebut memungkinkan nilai positif dan negatif terhadap bangsa Indonesia.
Bhineka Tunggal
Ika artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Ini menggambarkan bahwa Indonesia
memiliki beraneka ragam suku, adat istiadat, agama, dan bahasa daerah.
Pluralitas bukan hanya terjadi dalam
lingkup kelompok sosial yang besar seperti masyarakat disuatu negara, tetapi
juga dalam lingkup kecil seperti rumah tangga. Bisa jadi,
individu-individu dalam satu rumah tangga menganut agama yang berbeda. Manusia
secara fitrah memiliki hak memilih keyakinannya. Manusia tidak bisa dipaksa
agar mengikuti keyakinan tertentu. Jika dipaksakan juga, hal itu akan menyebabkan
kemunafikan.
Dewasa ini, sering kita dengar
istilah teroris, dan lebih ironinya lagi teroris sering dicirikan
dengan orang Islam. Jika benar Islam agama toleran, mengapa masih ada sebagian
dari umatnya yang melakukan kekerasan? Lalu bagaimana mewujudkan kerukunan
dalam beragama? Padahal Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa Islam adalah agama
yang rahmatallil’alamin.
Pembahasan
Kita semua tentunya
tidak asing lagi mendengar kata ‘toleransi’. Toleransi adalah rasa hormat,
penerimaan, dan apresiasi terhadap keragaman budaya dan ekspresi kita.
Toleransi adalah harmoni dalam perbedaan, yang membuat perdamaian menjadi
mungkin.
Istilah Toleransi berasal dari bahasa Inggris ‘tolerance’ yang
berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa
memerlukan pesetujuan. Bahasa Arab menterjemahkan Toleransi dengan
‘tasamuh’, berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.
Agama bagi setiap pemeluknya memang
merupakan wahyu atau petunjuk Tuhan (revelation). Namun,
kehidupan beragama tetaplah merupakan fenomena budaya. Sebagai implikasinya,
praktik keberagamaan masyarakat senantiasa melahirkan bentuk-bentuk plural
bahkan melahirkan pengelompokan-pengelompokan. Tidak jarang juga terjadi
kerusuhan-kerusuhan yang mengatasnamakan agama, tindakan terorisme misalnya.
Tindakan terorisme yang
dilakukan para teroris Muslim disebabkan berbagai faktor. Terorisme
di dunia Islam didorong oleh tujuan menciptakan kehidupan Islami dengan
menyerang isme-isme, institusi-institusi, dan simbol-simbol yang tidak Islami.
Budaya Islam telah dicemari oleh pemahaman-pemahaman radikal bahwa
“ayat-ayat pedang” telah menghapus ayat-ayat yang mengajarkan toleransi dan
inklusivisme.
Fakta telah bercerita bagaimana
ketidakselarasan kehidupan yang plural telah menjadi pemicu terjadinya
kerusuhan. Banyak analisis menyatakan kerusuhan antar etnis dan antar-agama
dipicu oleh provokator. Akan tetapi, patut disadari bahwa sering kali bukanlah
provokator yang lebih berbahaya bagi persatuan suatu bangsa. Melainkan rasa
benci dan maksud buruk yang bersarang di dada sebagian manusia. Diatur oleh
setan yang merupakan provokator sejati.
Sementara Arkoun menawarkan solusi berupa “deideologisasi agama”.
Deideologisasi adalah upaya membedakan antara agama autentik dengan agama yang
terdeideologisasi oleh kelompok-kelompok radikal. Agama yang autentik adalah
agama yang terbuka dan toleran. Sedangkan agama yang terdeideologisasi adalah
agama yang ditafsirkan secara reduktif, manipulatif, dan subjektif menjadi
agama yang tertutup dan intoleran.
Pandangan ini ada
benarnya, dengan bukti bahwa Yahudi merupakan agama autentik. Yahudi mengajarkan bahwa membunuh satu orang ibarat
membunuh seluruh manusia. Begitu pula agama kristen, agama kristen autentik
mengajarkan bahwa bila pipi kananmu ditampar, maka berikanlah pipi kirimu.
Rasulullah SAW, malah memberikan hal yang lebih baik bukanya balas dendam
ketika disakiti. Nabi pernah menjenguk non-Muslim yang pernah meludahinya. Nabi
bahkan sudi menyuapi orang yahudi buta yang sering mencibirnya di pinggir
jalan. Sayangnya etika toleran dan akhlak mulia seperti ini “tak terpikirkan”
oleh kelompok-kelompok radikal.
Untuk menciptakan
keharmonisan yang plural dalam beragama, banyak dilakukan berbagai musyawarah.
Baik yang bersifat intern maupun ekstern. Upaya tersebut berhasil menciptakan
kehidupan yang rukun. Namun, dikalangan sebagian umat beragama masih sering
muncul sifat yang tidak tulus atau terpaksa. Hal tersebut sewaktu-waktu dapat
mengganggu keharmonisan kehidupan yang plural itu.
Ketulusan dalam
memahami dan menyikapi kehidupan bangsa yang multikultural amatlah signifikan
bagi kelangsungan harmonitas sosial. Jika kita semua memiliki ketulusan dalam
menghargai serta menghormati para penganut kepercayaan yang berbeda dengan
kita, tentunya akan menciptakan kehidupan yang rukun.
Penutup
Kita tidak akan terjebak dalam
gerakan radikalisme, jika kita benar-benar faham dengan toleransi. Karena
toleransi merupakan sebuah jalan menuju kerukunan. Kerukunan adalah suatu
kewajiban agama dan merupakan bentuk ketaatan terhadap Tuhan. Ia juga merupakan
tuntutan budaya dan adat istiadat. Sinergi keduanya (agama-budaya) senantiasa
sangat mempengaruhi cara pandang dan sikap masyarakatnya mengenai berbagai hal.
Termasuk dalam upaya menciptakan hidup harmonis di tengah pluralitas. Pengaruh
agama dan budaya dalam memandang pluralitas kehidupan memang sangat menonjol.
Sebab, jika agama mempengaruhi cara pandang dan sikap para pemeluknya, adat
istiadat juga demikian.
Dalam percakapan sehari-hari seolah-olah tidak terdapat perbedaan
antara kerukunan dengan toleransi. Sebenarnya antara kedua kata ini, terdapat
perbedaan, namun saling memerlukan. Kerukunan mempertemukan unsur-unsur yang
berbeda, sedang toleransi merupakan sikap atau refleksi dari kerukunan. Tanpa
kerukunan toleransi tidak pernah ada, sedang toleransi tidak akan tercermin
bila kerukunan belum terwujud.
Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita memiliki sifat
toleransi, karena pluralitas agama dan umat beragama adalah kenyataan. Sebelum
Nabi Muhammad SAW di utus menjadi Rosul, di tanah Arab sudah muncul berbagai
jenis agama, seperti yahudi, majusi, zoroaster, dan shabi’ah. Sedangkan di
Indonesia, sebelum Islam datang ke Indonesia, Agama Budha dan Hindu sudah ada
terlebih dahulu. Islam datang bukan untuk memerangi mereka. Islam datang untuk
menunjukkan jalan yang benar kepada mereka yang masih berada di jalan yang
belum benar.
Daftar Pustaka
Al Munawar,
Said Agil Husin. 2005. Fikih Hubungan Antar Agama. Ciputat: PT Ciputat
Press.
Harahap, Syahrin. 2011. Teologi Kerukunan. Jakarta: Prenada.
Masduqi, Irwan.
2011. Berislam Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama. Bandung:
PT Mizan Pustaka.
Moqsith, Abd.
Ghazali. 2009. Argumen Pluralitas Agama: Membangun Toleransi Berbasis
Al-Qur’an. Depok: Kata Kita.
Langganan:
Komentar (Atom)